Berdasarkan cuplikan kasus tersebut

Fenomena sound horeg yang awal muncul di Jawa Timur saat ini tidak hanya digemari dan menyebar popularitas nya ke seluruh penjuru Indonesia, tetapi juga menuai kritik dan tentangan dari berbagai pihak. Fenomena yang ditandai dengan pemutaran musik dengan suara keras hingga menggetarkan daerah sekitar ini dipandang sebagai bentuk selebrasi dan hiburan bagi sebagian kalangan, tetapi sumber masalah bagi yang lain. Penampilan sound horeg juga kerap direkam dan dibagikan melalui konten-konten media sosial, sehingga menarik perhatian penduduk lokal, nasional, hingga global. Menteri ekonomi kreatif Indonesia bahkan menganggap sound horeg sebagai kearifan lokal dari Jawa Timur. Di lain sisi, fenomena sound horeg juga dipandang kontroversial. Beberapa organisasi kemasyarakatan menganggap sound horeg meresahkan masyarakat, membawa kerugian, dan berpotensi membahayakan kesehatan.

Referensi tambahan:

Irawati, D. (2025). Pro-Kontra Sound Horeg, Fenomena Hiburan Hingga Gangguan Pendengaran. Pro-Kontra Sound Horeg, Fenomena Hiburan hingga Gangguan Pendengaran (Diakses pada 24 Agustus 2025).

Restu, M. (2025). Sound Horeg: Antara Budaya Lokal atau Gangguan Sosial. https://tirto.id/sound-horeg-budaya-lokal-atau-gangguan-sosial-heko (Diakses pada 24 Agustus 2025).

Yaputra, H. (2025). Menteri Ekonomi Kreatif Sebut Sound Horeg Kearifan Lokal. https://www.tempo.co/politik/menteri-ekonomi-kreatif-sebut-sound-horeg-kearifan-lokal-2055745 (Diakses pada 24 Agustus 2025).

Berdasarkan cuplikan kasus tersebut, analisis lah fenomena sound horeg dengan menggunakan sudut pandang komunikasi multi kultural.

  • Fenomena sound horeg semakin populer di ranah nasional hingga internasional karena menjadi konten media sosial yang viral. Jelaskan argumen Anda mengenai peran media sosial dalam mempromosikan sound horeg!
  • Fenomena sound horeg menuai kritik dari berbagai kelompok masyarakat Indonesia. Dengan menggunakan teori atau konsep dalam komunikasi multi kultural, jelaskan strategi komunikasi multi kultural apa yang dapat digunakan untuk menjembatani perbedaan persepsi pada fenomena sound horeg!

Analisis Fenomena Sound Horeg dalam Perspektif Komunikasi Multikultural

Fenomena sound horeg mencerminkan dinamika ekspresi subkultur lokal yang bertransisi menjadi budaya populer melalui ruang publik dan digital. Dalam kajian komunikasi multikultural, ketegangan yang muncul mengindikasikan adanya perbenturan nilai (value conflict), negosiasi ruang bersama (shared space), serta perbedaan interpretasi makna simbolik antara kelompok pendukung tradisi komunal dan kelompok masyarakat yang mengutamakan ketertiban serta kenyamanan individual.


1. Peran Media Sosial dalam Mempromosikan Sound Horeg

Media sosial bekerja sebagai akselerator sekaligus jembatan antarbudaya (cross-cultural bridge) yang mengubah peristiwa spasial-lokal menjadi konsumsi global:

  • Disfusi Budaya Melalui Algoritma Visual dan Auditori: Platform seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube menyajikan cuplikan berdurasi pendek yang mengutamakan sensasi audio-visual ekstrem (getaran kaca, ekspresi penonton, tumpukan pengeras suara). Elemen sensasional ini memicu keterlibatan (engagement) tinggi yang mendorong algoritma menyebarkan konten melampaui batas geografis Jawa Timur hingga ke audiens internasional.
  • Globalisasi Glokal (Glocalization): Media sosial mengonstruksi sound horeg bukan sekadar hiburan desa, melainkan artefak budaya unik (exotic curiosity). Bagi audiens luar, konten ini dinikmati sebagai tontonan eksperimental atau komoditas digital tanpa harus merasakan dampak fisik polusi suaranya secara langsung.
  • Dekontekstualisasi Budaya: Media sosial sering kali memisahkan audio-visual dari konteks sosial aslinya. Hal ini menciptakan dua kutub: penonton digital yang mengagumi kemegahan teknologi audio rakyat, serta audiens domestik lain yang memandangnya secara kritis melalui lensa norma sosial perkotaan atau kesehatan lingkungan.

2. Strategi Komunikasi Multikultural untuk Menjembatani Perbedaan Persepsi

Perbedaan pandangan antara kelompok pendukung (yang memandangnya sebagai kearifan lokal/solidaritas) dan penentang (yang memandangnya sebagai polusi suara/ancaman kesehatan) dapat dijembatani melalui pendekatan teoretis berikut:

  • Penerapan Identity Negotiation Theory (Stella Ting-Toomey):
    • Strategi: Mengakui bahwa bagi komunitas asalnya, sound horeg merupakan penegasan identitas kolektif, prestise sosial, dan solidaritas warga. Dialog antarpihak harus dimulai tanpa meremehkan identitas tersebut sebagai “budaya rendah”, melainkan menghormati motif kulturalnya sembari menetapkan batasan yang disepakati bersama.
  • Pengelolaan Kecemasan dan Ketidakpastian (Anxiety/Uncertainty Management Theory - William B. Gudykunst):
    • Strategi: Ketegangan sering timbul karena prasangka antarkelompok (misalnya cap “anarkis” vs “anti-budaya lokal”). Pemerintah daerah dan tokoh masyarakat perlu menyediakan forum deliberatif resmi untuk mempertemukan perwakilan komunitas audio, ahli kesehatan/akademisi, dan warga yang terdampak guna mengurangi ketidakpastian serta meluruskan mispersepsi.
  • Pendekatan Cultural Relativism with Universal Ethical Standards:
    • Strategi: Memadukan penghargaan terhadap keunikan budaya lokal dengan etika universal hak atas kesehatan dan ruang hidup yang aman. Kompromi dicapai melalui regulasi berbasis zonasi (misalnya memindahkan karnaval ke area terbuka jauh dari pemukiman padat/fasilitas kesehatan) dan standardisasi desibel (\text{dB}) maksimum yang aman bagi pendengaran manusia.
  • Mediasi Komunikasi Publik Berbasis Kearifan Lokal (Musyawarah Mufakat):
    • Strategi: Pendekatan koersif (pelarangan mutlak) sering memicu resistensi budaya. Pendekatan persuasif-dialogis melalui rembuk desa yang melibatkan sesepuh, aparatur, dan pelaku industri audio kreatif dapat menghasilkan kesepakatan tata tertib (social contract) tanpa mematikan mata pencaharian teknisi dan pelaku seni lokal.

:light_bulb: Wawasan Konseptual:
Dalam komunikasi lintas budaya, konflik ruang publik jarang sekali murni tentang kebisingan fisik semata; konflik tersebut hampir selalu merupakan pertarungan simbolik tentang kelompok mana yang memiliki hak untuk menentukan definisi keteraturan, estetika, dan ‘kenyamanan’ di ruang publik.


Apakah Anda ingin kita membedah lebih dalam salah satu teori komunikasi di atas, seperti menyusun draf simulasi mediasi dialog publik berbasis Identity Negotiation Theory?